Home » , » GUS DUR, “ORANG SUCI” PALING LUCU SEDUNIA

GUS DUR, “ORANG SUCI” PALING LUCU SEDUNIA

Gus Dur atau Al Mukarom KH. Abdurrahman Wahid -Allahu Yarham- adalah seorang tokoh yang penuh misteri, sulit dipahami namun namanya akan terus dikenang oleh bangsa ini (hingga hari ini setiap minggunya ribuan orang masih datang berziarah ke makam beliau). Kaum nasionalis menganggapnya sebagai guru bangsa dan pejuang hak asasi, toleransi dan demokrasi. Kalangan NU menganggapnya sebagai ulama besar bahkan auwliya yang memiliki karamah dan ilmu Ladunni (ilmu yang bukan berasal dari dunia ini) serta memanggil beliau dengan sebutan Mbah Wali.

Dalam pandangan kaum minoritas dan non muslim beliau dianggap sebagai sang pengayom dan pelindung minoritas. Hingga sekarang warga keturunan Tionghoa dan umat Khonghucu merasa berhutang budi dan akan terus mengenang jasa beliau yang telah mengakui agama Konghucu dan menjadikan tradisi serta hari raya Imlek sebagai hari libur nasional.

Selain itu Gus Dur juga adalah sosok yang sangat cerdas bahkan jenius. Gus Dur menguasai dengan fasih dan aktif 4 bahasa asing dan dapat membaca dengan baik 3 bahasa asing lainnya, yaitu bahasa : Inggris, Prancis, Arab dan Belanda serta, Jerman, Jepang dan China yang dikuasainya secara pasif. Gus Dur juga sanggup menghapal ribuan nomor telepon di luar kepala. Kapolri dan mantan ajudan Gus Dur, Jenderal Sutarman mengenang beliau sebagai sosok yang luar biasa cerdas dan diberkahi daya ingat yang luar biasa. "Beliau ini bisa menghafal ribuan nomor telepon, padahal beliau dua kali terkena stroke," ujar Sutarman.

Prof. Dr. Moh. Mahfud M.D. S.H. juga menceritakan bahwa saat Gus Dur ke Belanda, dari sebuah stasiun beliau enak saja menyebut nomor-nomor telepon dan nama-nama orang untuk dihubungi dari stasiun kereta api atau dari airport. Dan pada Desember 2000 saat Gus Dur sedang melakukan kunjungan ke Brunei, Gus Dur meminta Prof. Mahfud untuk menghubungi beberapa orang melalui telepon masing-masing. Gus Dur menyebut dengan sangat lancar nomor telepon setiap orang, baik telepon rumah maupun telepon genggamnya dan itu dilakukannya dengan sama sekali tidak membawa ataupun membaca catatan.

Dr. Nurcholish Madjid juga pernah mengatakan bahwa Gus Dur mampu menghafal di luar kepala ribuan nomor telepon teman-temannya. Namun ketika ditanyakan pada Gus Dur apakah benar beliau hafal ribuan nomor telepon, Gus Dur hanya menjawab dengan rendah hati sambil bercanda "Ya, tapi itu dulu. Sekarang tinggal hafal beberapa nomor milik janda-janda yang sering nelpon saya he..he..”

Satu lagi yang unik yaitu bahwa Gus Dur sering sekali tertidur mendengkur dan terlelap di mana saja berada termasuk saat sidang pleno dan paripurna DPR maupun berbagai momentum penting resmi kenegaraan lainnya bahkan pada saat pertemuan resmi yang dihadiri oleh pemimpin tertinggi Iran. Meski tertidur namun saat giliran beliau berbicara, Gus Dur bisa tiba-tiba bangun bahkan bisa menguraikan apa yang tadi disampaikan oleh pembicara-pembicara lainnya dengan cukup lengkap, jelas dan akurat serta bisa menjawab semua pertanyaan dengan tangkas dan cerdas.

Yang istimewa bahkan tokoh-tokoh Katolik yang ada di Vatikan menganggap Gus Dur sebagai seorang Santo atau orang suci. Dulu saat masih menjabat sebagai ketua PBNU Gus Dur pernah berkunjung ke Vatikan dan sambil bercanda mengatakan bahwa kelak dia akan datang lagi ke Vatikan tapi sebagai Presiden. Hal ini kemudian sungguh terjadi yang membuat para  tokoh di Vatikan tersebut menganggap Gus Dur setara dengan Santo yang memiliki ketajaman spiritual tertentu. Dan saat masih menjadi ketua PBNU, Gus Dur pernah berdiskusi dengan para kyai di kantor PCNU Wonosobo. Dan saat para kyai bertanya tentang siapa yang bakal jadi Presiden jika Orde Baru tumbang, dengan guyon Gus Dur menjawab : “Ya saya hehe....” Saat itu semua kyai hanya menganggap beliau bercanda karena hal itu dianggap mustahil dan tidak mungkin mengingat kondisi kesehatan Gus Dur saat itu serta betapa kuatnya kekuasaan Orde Baru.

Tidak hanya itu, berbagai nubuat dan ramalan yang dikatakan oleh Gus Dur juga banyak yang kemudian terbukti menjadi kenyataan seperti naiknya Jendral Sutarman (ajudan Gus Dur saat menjadi Presiden) menjadi Kapolri, naiknya KH. Said Aqil Siradj (tokoh NU) menjadi ketua PBNU di atas usia 55 tahun, naiknya Ahok (yang saat itu menjadi Bupati Belitung) menjadi Gubernur dan naiknya Jokowi (yang saat itu adalah walikota Solo) menjadi Presiden dan juga nubuat Gus Dur saat menjelang wafatnya beliau sendiri  (dengan berkata “Aku bakal pulang ke Jombang tapi nanti diantar orang banyak karena sudah ditunggu almarhum bapakku disana.”)

Gus Dur adalah orang yang “telah selesai dengan dirinya sendiri” sehingga tidak melambung ketika disanjung dan merana ketika dihina. Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sederhana, murah hati dan tidak materialistis. Tidak jarang orang datang kepada beliau di kantor PBNU (sebelum menjadi Presiden) untuk meminta uang untuk sekedar urusan berobat, bayar uang sekolah sampai ongkos pulang kampung meskipun Gus Dur sendiri bukanlah orang yang kaya.

Meskipun cucu dari kyai besar pendiri NU dan anak dari Menteri Agama era Soekarno, namun hidup beliau tidaklah berlebihan sehingga istri beliau, yaitu ibu Shinta Nuriyah Wahid dulu sempat berjualan kacang yang digoreng dengan pasir hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah menjadi Presiden, gajinya sebagai Presiden bahkan seringkali diserahkan pada orang yang ada di dekatnya begitu saja seperti kepada Alwi Shihab, AS Hikam dan Arifin Junaidi karena menurut beliau “Semua kebutuhan saya sudah disediakan disini (Istana Negara). Saya tak butuh apa-apa lagi, jadi uangnya biar dipakai sama yang masih butuh saja.”

Ada salah satu nasehat Gus Dur yang menurut saya relevan untuk direnungkan di tahun politik Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019 yang bisa kita gunakan sebagai panduan untuk memilih pemimpin ataupun pejabat publik yaitu : “Jangan kamu minta jabatan, karena kamu akan sendiri dan dibiarkan oleh Allah. Tapi kalau kamu tidak minta jabatan, maka Allah akan membantumu. Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dikejar dan dipertahankan mati-matian.” Sungguh ini adalah sebuah nasehat yang tepat dan bijaksana. Dari sini juga kita bisa menilai kwalitas, karakter dan integritas dari sosok calon pemimpin, apakah dia seorang negarawan sejati ataukah hanya seorang oportunis dan poli-tikus ambisius biasa.

Meskipun demikian kaum Wahabi Takfiri dan kelompok radikal-intoleran seringkali menganggap beliau sebagai sesat dan munafik. Bibib pernah melecehkan Gus Dur dengan sebutan buta mata buta hati padahal justru dia sendiri yang buta hati bahkan akhirnya kuwalat dan tersandung kasus mesum serta pornografi hingga akhirnya buron dan minggat ke luar negeri. Bahkan istri dan anak-anak Gus Durpun tidak luput dari fitnah, hinaan dan makian dari Bani Micin plus oplosan kencing onta ini (sama seperti yang mereka lakukan pada Jokowi dan keluarganya). Ibu Shinta Nuriyah Wahid pernah ditolak, dihadang dan didemo oleh ormas radikal. Alissa Wahid pernah disebut sebagai “anak si buta”. Yenni Wahid pernah dihina cara berpakaiannya dan disebut antek liberal dan sebagainya.

Meski demikian saya tetap menganggap Gus Dur adalah pejuang dan mujahid Islam sejati yang telah berhasil menunjukkan wajah Islam yang sejuk, toleran, moderat, cinta damai dan Rahmatan lil Alamin. Gus Dur adalah tokoh yang berhasil “menyelamatkan muka Islam” yang telah tercoreng, rusak, tercemar dan dinodai oleh para provokator berjubah agama yang radikal, arogan bahkan barbar yang membuat orang jadi takut dengan nama Islam dan kalimah suci Allahu Akbar.

Namun dibalik semua kelebihan dan kontroversinya, Gus Dur juga adalah sosok yang sangat sederhana, merakyat dan humoris. Gus Dur seringkali menyelipkan pesan bijak dan makna tersembunyi yang dibungkus dalam bentuk humor. Gus Dur adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Presiden Amerika Bill Clinton, Presiden Kuba Fidel Castro dan Raja Arab Salman bin Abdulaziz ga bisa nahan jaim sampe ketawa ngakak kelihatan giginya di depan para wartawan dan awak media, suatu hal yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Ada banyak sekali humor lucu yang pernah dibuat dan dilontarkan oleh Gus Dur, termasuk dalam berbagai pertemuan resmi bilateral antar negara dan acara resmi kenegaraan. Sebagian di antara humor Gus Dur yang tetap bisa membuat saya ketawa meski telah mendengarnya berulang kali adalah beberapa kisah berikut ini :

1. HUMOR ANAK KYAI
Dikisahkan suatu ketika ada seorang kyai besar yang memiliki pondok dengan ribuan santri. Kyai ini memiliki tiga anak laki-laki. Yang sulung berhasil mengikuti jejak ayahnya dan juga menjadi kyai yang memiliki dan memimpin pondoknya sendiri. Anak kedua menjadi seorang ustadz dan mubaligh yang seringkali diundang untuk memberikan ceramah dan dakwah agama. Berbeda dengan ayah dan kedua kakaknya, si anak bungsu justru memilih berpindah agama dan menjadi penganut Kristiani.

Sedih, galau, kecewa dan bingung dengan keputusan anak bungsunya ini, pak Kyai akhirnya bermunajat dan berdoa kepada Tuhan untuk mengadukan keresahan hatinya. Tak disangka ternyata Tuhanpun dengan cepat merespon keluh kesahnya dan menjawab : “ Kamu punya anak tiga, cuma satu yang masuk Kristen aja bingung dan ngeluh. Coba bayangkan, anakKu cuma satu-satunya, masuk Kristen lagi. Gimana perasaanmu coba?“ Wkwkwk......

2. HUMOR KEDEKATAN DENGAN TUHAN
Suatu ketika terjadi perbincangan antara orang Hindu, Kristen dan Islam. Orang Hindu berkata, “Kami orang Hindu sangatlah dekat dengan Tuhan. Buktinya kami memanggil Tuhan dengan panggilan : Om.” Orang Kristen ga mau kalah. Dia membalas, “Kami orang Kristen dan Katolik lebih dekat lagi sama Tuhan. Kami memanggil Tuhan dengan sebutan Bapak dan Bunda. Lebih dekat mana Bapak dan Bunda sama Om?” Tinggal si orang Islam yang tersipu-sipu malu. Sambil menahan senyum karena malu dia berkata, “Kami orang Islam boro-boro dekat. Mau manggil Tuhan aja kami harus teriak-teriak dulu pake TOA / pengeras suara.” Wkwkwkwk.....

3. HUMOR TUHAN & PRESIDEN
Suatu ketika terjadi audiensi antara Tuhan dengan pemimpin negara dari Amerika, Prancis, Inggris dan Indonesia. Presiden Amerika bertanya “Tuhan kapan negara kami bisa makmur sejahtera semuanya?” Tuhan menjawab “20 tahun lagi.” Presiden Amerikapun kemudian menangis. Presiden Prancis bertanya “Tuhan kapan negara kami bisa makmur sejahtera semuanya?” Tuhan menjawab “25 tahun lagi.” Presiden Prancispun kemudian menangis.

Perdana Menteri Inggris bertanya “Tuhan kapan negara kami bisa makmur sejahtera semuanya?” Tuhan menjawab “30 tahun lagi.” Perdana Menteri Inggrispun lalu menangis. Kemudian giliran Presiden Indonesia (Gus Dur) bertanya : “Tuhan kapan negara kami bisa makmur sejahtera semuanya?” Tuhan diam dan kini gantian Tuhan yang menangis. Wkwkwk...

Untunglah yang bikin cerita-cerita humor itu adalah Gus Dur. Kalo saya mungkin bakalan habis dimaki, dipersekusi dan didemo berjilid-jilid sama ormas radikal dan intoleran. Hayo siapa yang berani bilang Gus Dur melakukan penistaan agama? Ga takut sama pasukan Banser dan barisan pendekar Pagar Nusa yang sakti mandraguna, kebal senjata dan berani mati ya? Hehe.....

Menurut saya Gus Dur yang bijak namun humoris itu mirip Buddha Chikung atau Buddha Ketawa atau para pendeta Zen yang gokil, lucu, unik, suka ga nyambung, ngawur tapi memiliki kebijaksanaan yang mendalam, hikmah tersembunyi dan sakti luar biasa. Ilmu dan kebijaksanaan mereka sangat tinggi namun mereka sangat sederhana, wajar, santai, relaks, luwes, fleksibel dan ringan menghadapi kehidupan. Berdasar pengalaman pribadi memang biasanya guru yang bijak dan berilmu tinggi hampir semuanya adalah seperti itu. Yang ilmunya nanggung, mediocre, setengah-setengah, kurang matang tapi sok tahu justru yang biasanya bawaannya tegang, ngamukan dan suka ngajak ribut melulu.

Makanya jadi orang jangan suka baper, gampang marah, ngamuk, tersinggung dan bawaannya tegang, stress n gaduh melulu kayak emak-emak baru datang bulan atau ABG alay lagi putus cinta. Gampang ngamuk itu tanda kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual yang rendah. Lha wong nyatanya Gus Dur yang tak diragukan kejeniusan, kebijaksanaan dan ketajaman mata batinnya aja woles n santai gitu kok. Kwalitas Gus Dur jelas beda bagai bumi dan langit dibanding mereka yang suka berkata : “Kami ini cinta damai. Kalo ga percaya gue pentung loe !!”

Tuhan itu Maha Baik, Maha Indah, Maha Toleran dan Maha Humoris (semua yang ada di alam semesta adalah ciptaan Tuhan, termasuk humor). Sebagai umat Tuhan kita juga harus menunjukkan dan mencerminkan semua kwalitas yang baik dan indah agar orang ingat kembali kepada Tuhan. Jangan sampai kita menunjukkan dan mempertontonkan perilaku negatif yang justru bertentangan dengan kehendak Tuhan seperti memaki, mengancam, mengintimidasi, menteror, memaksakan kehendak, mempersekusi dan menghakimi yang justru membuat orang menganggap bahwa Tuhan itu kejam, sadis, menakutkan dan maha diktator.

Mau tahu buktinya kalo Tuhan itu maha humoris? Lihat aja slogan kampanye “Keberpihakan” tapi melakukan boikot mayat saudara seagama. Lihat aja janji kampanye “Ojek Terbang” yang sekarang jadi Be’ol Cepirit (Becak Online Cepat & Irit). Lihat aja Oke Oce yang katanya “dibantu modalnya” dan ternyata malah diporotin dan dimakelarin 13%. Lihat aja Rumah DP 0 rupiah yang ternyata cuma rusun biasa dengan akad 20 juta bagi yang berpenghasilan 7 juta sebulan. Lihat aja janji KJP Plus yang ternyata malah jadi minus, makin berkurang bahkan sebagian menghilang. Itu semua adalah bukti betapa dagelan dan lucunya kehidupan ini. Dan lucunya lagi, yang konyol macam gini malah dibelain mati-matian dan dianggap bak pahlawan suci.

Pasti sekarang giliran Tuhan yang jadi mikir dan bilang : “Sebenarnya yang waras itu siapa?”

Salam Waras Gus,

Gitu Aja Kok Repot.......
( Jika cinta Gus Dur silakan share tulisan ini. Ila ruhi Mbah Wali Gus Dur, lahul Fatihah......)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1801326859879026&id=100000051895419

0 comments:

Popular Posts

Blog Archive